go take a look at this!
go take a look at this!
sebenarnya saya sudah setengah ngantuk ketika menuliskan ini, tapi ingin menuliskannya sebelum saya kembali jadi pemalas yang kerjanya hanya tidur-tiduran sambil ngepak barang.
Tadi malam, saya kembali menonton dorama jepang, beautifull life. Terakhir saya menontonnya ketika sma kelas 1 di serial televisi, di jam-jam yang baiknya seorang pelajar harus tidur. Saya ingat musim itu adalah masa orientasi siswa baru di sekolah saya. Harus bangun pagilah, bikin ini itulah, saya nggak bisa nonton inuyasha pagi-pagi dulu sambil sarapan sebelum ke sekolah.
Yang menjadi berbeda adalah saya jadi memperhatikan setiap setting tempat dan bangunannya. Hahahahah *padahal ngakunya puasa arsitektur dulu. Setting tempat tinggal masing2 tokoh sangat sesuai dengan karakter dan kepribadiannya.

apartemen shuji

tempat favorit saya di apartemen itu adalah meja makan ini. Jepang terkenal dengan kebiasaan menggunakan suatu ruang untuk banyak kegiatan. Menurut saya seharusnya memang begitu, lebih hemat murah dan simpel. Setelah makan kamu bisa menggambar diatas meja ini atau menerima tamu atau apapun.

rumah impian shuji & kyoko. hahaha desainnya bagus pisan.

bel yang berbunyi ketika ada tamu yang masuk rumah :)

semua barang ada ditempatnya. simpel dan tidak berlebihan

foto-foto ditempel ke dinding

rak buku dan sepeda, isnt’ it cute?

anjing, sofa tempat baca buku, dan dream catcher. PERFECT!

dream catcheeeeer. i want ones.

ingin feist tapi malu minta duit ke orang tua :(

Tadi malam saya ke klenteng, dengan harap bisa panen foto. Tapi banyak hal yang tidak sesuai ekspetasi dan banyak hal menyenangkan yang terjadi. Hal-hal yang tidak pernah saya lakukan seumur hidup. Kami berkumpul disebuah rumah di sumur bandung. Saya kira rumah itu kosong dari dulu, dan kata teman saya berhantu. Kalau diingat-ingat saya jadi ingin tertawa. Betapa ekspetasi bisa membunuh keberanian orang-orang.
Di klenteng penuh orang yang berdoa, mereka berdoa kepada siapa menurut saya tidak penting saya cari tahu. Kepercayaan toh urusan masing-masing. Menemukan apa yang kamu percayai itu semacam anugrah untuk setiap orang. Lalu kami jalan menyusuri gang-gang menuju gardudjati. Katanya mau makan bersama, jalan liat sana-sini. Luke tunjuk sana-sini, isung dan sri berjalan cepat di depan entah sedang membicarakan apa. Tiga teman lainnya dibelakang melihat sesuatu yang absurd yang saya dengan polosnya kira itu biasa saja. Seperti biasa pikiran saya memang paling pinter kalo disuruh berteman dengan naif. Kami berhenti di hotel surabaya, mas-mas aleut bercerita dengan mimik lucu, menarik ceritanya. Saya suka sekali restoran di dekat hotel ini, setiap kali lewat daerah sini, saya selalu menoleh, melihat kaca-kaca patrinya, melihat lampion-lampionnya. Kami memutuskan pisah dari rombongan, makan. Berakhir dengan ditinggal rombongan, kami jalan kaki. Disini bagian serunya, hal yang akan saya catat, jalan-jalan malam hari di bandung dengan jalan kaki, ga semua orang pernah melakukannya kawan(hahahaha). Kami jalan dari stasiun ke arah BIP. Pulang dan berpisah, turun dari angkot ke tujuan masing-masing. Berakhir di tempat tidur setelah melihat berita-berita di televisi.
Jadi ingat, kemarinnya lagi saya jalan-jalan ke museum namanya sri baduga, katanya yang mendesain salah satu dosen saya. Yang saya senangi adalah perjalanan kesana karena saya melewati bermacam papan nama toko dan melalui jalan otista, mengamati aktivitas dari balik kaca Damri. Disana saya melihat-lihat banyak peninggalan purbakala, termasuk penyembahan animisme dinamisme. Yang saya lihat adalah keromantisan, sebenarnya kalau dipikir-pikir dimana-mana adalah mengingatkan tentang Tuhan. Animisme mungkin tentang penyembahan nenek moyang, tapi kalo dirasionalkan sebenarnya dengan mengingat nenek moyang kita, mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan. Semua itu lambat laun akan mendorong kita menemukan apa yang lebih besar dari sekedar nenek moyang kan? Manusia berproses, dan karena berproses kita bisa lebih kuat dalam pemikiran.
Pulangnya kami jalan ke braga, beli es cendol elisabeth lalu naek angkot. Turun di Viaduct(bener ga nulisnya?) lalu jalan lewat kampung braga. Jadi ingat TA sri. Hahaha.
Kami lewat gang-gang sempit, kehidupan yang saling mengintip satu sama lain. Lalu ada hotel tinggi. Lalu saya bersyukur bisa berjalan-jalan seperti ini. Kegiatan random yang pasti saya rindukan ketika besok sudah tidak mahasiswa lagi :)
- luke mayang kencana (dalam perjalanan setelah mengunjungi klenteng di gardu jati)