selamat ulang tahun rere sayang! semoga yang dicita-citakan terkabul,lancar kuliah s2nya, lancar ke pelaminan, & lancar cita2 keliling indonesianya! (sebagian besar travelling aku pas kuliah brg kamu ya).love you! you’re trully a life wanderer! keep questioning about life,re!
happy birthday lovely princess,@putrikaa. thx for all silly little things that we shared!salam buat gunung & laut,selamat ulang tahun d puncak tertinggi jawa put!
i think prime numbers are like life.they are very logical but you could never work out the rules,even if you spent all your time thinking about them
selamat pagi & selamat ulang tahun,Bung! (dari sudut rumah,ibuku kagum sekali padamu)
Magelang, april 2013
Saya ingat sore itu karena kebaikan seorang warga dan 3 orang adik yang manis, kami bersepeda menyusuri kampung-kampung di pinggiran Borobudur. Mengenal bagaimana penduduk sekitar banyak yang bergantung pada situs budaya ini. Ketika yang akhir-akhir ini disorot adalah perayaan besar dan intoleransi, kita menjadi lupa bahwa yang sederhana dalam keseharian,yang luput dari pandangan adalah sejatinya yang hakiki. Ada toleransi, ada kesediaan untuk mensyukuri apa yang sudah diberi.
selamat ulang tahun patner,sri sur! stay true to yourself,stay still on your path,stay awesome & be yourself like oscar wilde once said. setahun lalu ada pesta rilis album pure saturday, tahun ini damon albarn ke jkt,tahun dpn entah apalagi(lo nikah mungkin?hahaha). seperti kata sajak joko pinurbo,ulangtahun,sebenarnya kita sedang menghitung mundur. kudoakan pastinya kau menghitung mundur dengan hal2 bermanfaat & bahagia selalu :)
98, untuk wiji (bagian 1)
Waktu itu saya masih berusia 11 tahun, tidak tahu apa-apa ketika kerusuhan terjadi. Kota tempat saya bermukim, Yogyakarta, aman dan sejahtera tidak terjadi kerusuhan. Bangunan pun tak ada yang dibakar. Dibalik itu sih saya tak tahu menahu, atau mungkin orang tua saya terlalu pintar menyembunyikan kekalutan situasi pada saat itu. Yang saya tahu sewaktu itu adalah krismon dan kedua orang tua saya menjual cincin kawin mereka (beberapa tahun kemudian mereka membeli cincin kawin baru, saya diajak ikut memilih. Hahaha).
Seingat saya sewaktu itu yang parah terjadi adalah di Solo, kota kelahiran kedua orangtua saya. Solo seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Keluarga besar bermukim disana, hampir setiap minggu saya pergi ke kota itu. Dalam benak saya waktu itu, melihat puing-puing terbakar, bertanya-tanya dan Bapak Cuma bilang itu karena kerusuhan. Saya melihat di televisi mahasiswa yang naik ke atap MPR. Pernah dipulangkan lebih cepat lalu libur, karena sekolah saya dibawah naungan yayasan Katolik dan banyak warga keturunan. Dunia saya sewaktu itu hanya selebar rumah, SD saya (Marsudirini),dan majalah Bobo. Yang lain-lain saya tidak mengerti dan ambil peduli.
Lalu tiba dimalam tadi, pertautan saya pada puisi membuat saya jatuh hati pada Wiji Thukul. Saya membaca puisi beliau pertama dari status Em, seorang teman, saya bertemu hanya sekali di sebuah pertemuan bersama beberapa wakil mahasiswa sipil dan arsitektur seBandung. Sajaknya tentang perlawanan, mungkin semua orang pernah baca. Saya pernah menyalinnya ke sini. Saya tidak pernah tahu seperti apa hidup wiji, hingga dituangkan pada edisi khusus sebuah majalah(maklum saya mahasiswa arsitektur yang bicara lebih pada estetis, sejarah peristiwa menjadi hal-hal yang miskin dibicarakan kecuali jika ada hubungannya dengan arsitektur itu sendiri). Tadi malam lembar-lembar majalah tersebut seperti membius saya. Banyak cuplikan yang mengena di hati, tentang konfrontasinya dengan puisi. Saya selalu meyakini bahwa seni bisa membawa orang ke tingkat peradaban yang lebih maju, membuat kita lebih mawas dan mengoreksi diri.
Seperti penggambaran orang pada sosoknya:
“Rambutnya Lusuh, pakainnya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang mempesona. Tapi bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani. Kegiatannya mendidik anak-anak kampung dianggap menggerakan kebencian terhadap orde baru. Maka Ia dibungkam. Dilenyapkan.”
“ternyata laki-laki cedal itu bernama wiji thukul. Saya terlongong-longong mendengar kata-kata ajaib dari bibirnya. Lugas, sederhana, membalut ide yang sama sekali tidak sederhana.”
“sedangkan wiji thukul, boleh dibilang ia artikulasi paling optimum dari suatu imaji ekstrem mengenai gerakan kelas. Tapi kelas yang dalam sejarah kekuasaan Orde barumasih terpencil dan penuh stigma. Wiji Thukul adalah buruh dengan pikiran radikal tapi yang sekaligus juga mampu berpuisi dengan kebebasan, artikulasi, dan daya esetetika yang setara bahkan dengan borjuis paling terdidik di republik ini. Wiji Thukul menjadikan puisinya sebagai konfrontasi. Akibatnya, wiji thukul dibenci sekaligus dianggap berbahaya”

seperti katanya, pada puisi yang membuatnya lebih melampaui hidupnya:
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
(….)
the moment when all you need is just you and universe. and its more than enough.
such a great teamwork. terimakasih untuk memanjakan mata & telinga
Sam : You know what i do when i feel completly unoriginal?
Andrew : what?
Sam : I make noise or something that no one has ever done before and then i can feel unique again even if its only for like a second. No, not in this spot. No, you just witnessed a completly original moment in history.
(via kassiepee)
menonton kembali garden state( saya nonton ketika smp) ternyata memang begini tipe2 film saya. kehidupan nyata, biasa2 saja dengan petikan percakapan yang benar2 nyata dan bs terjadi di kehidupan sehari-hari (oya iron man mungkin memang oke, tp tidak meninggalkan jejak sedalam ini atau before sunrise/sunset atau bahkan humor kejam ala pulp fiction. Yang saya ingat dr ironman hanya saya tertawa lalu pulang lalu ingin nikah dengan scientist. itu saja. hahaha).